Pojok Pantura

Iman Akan Menghasilkan Keamanan Bagi Seluruh Manusia

Pojok Pantura | PojokPantura.Com - Salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada hambanya adalah nikmat Iman. Karena keimanan (kepercayaan) tidak bisa diminta dan tidak akan bisa hadir begitu saja tanpa hidayah dari Allah. Maka selanjutnya yang perlu dilakukan oleh seorang hamba setelah diberi nikmat ini adalah mensyukurinya. Bentuk rasa syukur kepada Allah adalah dengan memelihara dan mempertahankan keimanannya sekuat kemampuannya, bahkan dengan jiwa dan raganya sekalipun.

Dari kata iman itu muncul derivasi lainnya yakni kata aman, maka dari kacamata bahasa saja sebetulnya dapat dikatakan bahwa jika keimananan sudah ada, tentu otomatis keamanan itu akan tercipta dengan sendirinya. Dalam Islam, keimanan sangat berkolerasi dengan keamanan. Keamanan akan semakin kuat dengan kuatnya iman dan begitu juga sebaliknya, jika keamanan melemah, maka saat itu pasti keimanan sedang lemah pula.

Tugas mengamankan itu tidak hanya wewenang atau kewajiban tentara ataupun polisi saja. Setiap hamba yang merasa beriman kepada Allah juga berkewajiban menjaga dan memberikan rasa aman di lingkungan masyarakatnya. Hal ini sesuai hadist yang diriwayatkan oleh Imam al-Nasa'i dan Imam Ahmad bin Hanbal, hadits dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda:

المؤمن من أمنه الناس علي دماءهم و أموالهم
“Seorang mukmin itu adalah orang yang manusia lainnya merasa aman atas darah dan harta mereka”.

Hadist lain serupa yakni yang diriwayatkan oleh Fudhala bin Ubaid meriwayatkan bahwasanya Rasulullah bersabda ketika beliau berhaji:

المؤمن من أمنه الناس علي أنفسهم وأموالهم
“Seorang mukmin itu adalah orang yang manusia lainnya merasa aman atas jiwa dan harta mereka”.

Dalam memelihara keimanannya, seorang hamba tidak hanya dituntut untuk beribadah langsung secara vertical kepada Allah seperti shalat dan puasa. Namun ibadah secara horizontal yakni berbuat baik dan memuliakan orang lain juga termasuk representasi keimanan seseorang. Seperti dalam sebuah hadist Abu Hurairah meriwayatkan bahwasanya Rasulullah bersabda: “barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Teroris Bukan Termasuk Orang Yang Beriman

Dengan menelaah hadist-hadist di atas, kita sudah bisa tahu bahwa gerakan teror tidak diperbolehkan oleh Islam. Banyak teroris yang mengklaim dirinya muslim beranggapan bahwa mereka akan mendapatkan ganjaran kebaikan yang sangat banyak jika mereka berjihad dengan mau meneror bahkan membunuh orang non muslim. Anggapan itu sungguh sangat sesat. Mengingat hal ini sangat menyimpang dari sunnah Nabi SAW dan ciri keimanan seorang muslim.

Kalau ada orang, baik dia muslim maupun non muslim yang merasa tidak aman dari orang yang mengaku beriman, maka sesungguhnya keimanan orang itu patut dipertanyakan. Walaupun orang yang membuat resah dengan melakukan kemngkaran dan kekerasan itu berteriak takbir untuk melegitimasi perbuatannya, maka dapat dipastikan dia bukanlah orang yang beriman. Hal ini sesuai hadist dari Abu Syuraih dalam kitab al-Shahih, Imam Bukhari meriwayatkan bahwasanya Rasulullah bersabda:

والله لا يؤمن والله لا يؤمن والله لا يؤمن
“Demi Allah (dia), demi Allah (dia) tidak beriman, demi Allah (dia) tidak beriman.

Seseorang bertanya, “siapa dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:

الذي لا يأمن جاره بوائقه
“Yaitu orang yang tetangganya merasa tidak aman dari sifat jahatnya”.

Konsep ini sejalan dengan hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, bahwasanya Rasulullah bersabda:

لا إمان لمن لا أمانة له
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki (sifat) amanah!”

Dengan alasan yang sama, Rasulullah menjawab pertanyaan seseorang yang ingin mengetahui, “siapa yang mukmin itu”, Rasulullah menjawab

من ائتمنه الناس علي أموالهم وأنفسهم
“Orang yang dipercayai oleh orang lain atas harta dan jiwa mereka.” (HR. Ibnu Majah)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang beriman harus juga menjaga ukhuwah islamiyah dan ukhuwah insaniyah. Dengan memelihara itu, orang beriman akan selalu saling menjaga satu sama lain dan saling menjaga persaudaraan antar umat beragama. Dengan menjaga ukhuwah, maka keamanan akan semakin kuat yang kemudian akan menghasilkan rasa khusyu’ dalam beribadah dan menciptakan suasana kondusif dalam bersosial-ekonomi.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait