Pojok PanturaPojok Pantura

Satu Nikmat Allah Tidak Bisa Ditebus Dengan Ibadah 500 Tahun Seorang Hamba

Satu Nikmat Allah Tidak Bisa Ditebus Dengan Ibadah 500 Tahun Seorang Hamba

Pojok Pantura | PojokPantura.Com - Sebagai seorang hamba hendaknya kita jauhi sifat sombong apalagi ujub dengan kebaikan atau ibadah yang kita lakukan selama ini, karena sebanyak dan sesering apapun amal ibadah kita lakukan, sungguh tidak apa-apanya dibanding curahan rahmat Allah yang tiada terhingga jumlahnya setiap detik kepada kita. Satu contoh kecil saja, kita bernafas tiap detiknya itu termasuk rahmat Allah. Dengan bernafas (hidup), kita bisa beribadah, melakukan perintahNya dan dengan dikasih kehidupan, kita juga bisa melakukan apapun yang kita inginkan.

Contoh lagi, nikmat terbesar manusia adalah diberi keimanan oleh Allah untuk memeluk Islam sebagai agamanya. Jika seseorang tidak dikasih kenikmatan itu, niscaya semua kebaikan yang orang itu lakukan tidak bisa menyelamatkannya kelak di akhirat. Kemudian atas dasar rahmat Allah yang sudah diberikan kepada kita, Seberapa hebatkah amal ibadah yang kita bisa banggakan? Karena sehari diberi Allah waktu 24 jam pun mayoritas dari kita hanya beberapa menit saja yang dipersembahkan untuk ibadah, itupun kualiasnya tak seberapa. Karena sering kali kita lakukan hanya sebagai penggugur kewajiban perintah Allah saja.

Sesungguhnya, Allah tidak membutuhkan ibadah kita, akan tetapi kitalah yang sebenarnya butuh Allah. Butuh keselamatan, perlindungan dan hidayah dari Allah. Kita tidak bisa beribadah berdiri sendiri tanpa Allah. Maka, sebab ketidakberdayaan kita sebagai seorang hamba, membuat kita beribadah kepada Allah. Beribadah dan melakukan kebaikan untuk meminta keselamatan dunia dan akhirat kepada Yang Maha Kuasa, yakni Allah.

Dalam satu riwayat dari Al-Hakim, Rasulullah pernah mengisahkan kepada para sahabatnya tentang betapa tak terhingga banyaknya rahmat Allah yang telah dianugerahkan kepada tiap manusia. Rahmat Allah tak bisa dibandingkan dengan apapun Termasuk ibadah 500 tahun yang manusia lakukan sepanjang umurnya tidak ada artinya dengan rahmat dari Allah.

Dari Jabir bin Abdullah RA berkata, "Rasulullah SAW berjalan menuju kami, lalu bersabda, "Baru saja kekasihku, Malaikat Jibril keluar menemuiku. Ia memberitahu, "Wahai Muhammad, Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran. Sesungguhnya Allah mempunyai seorang hamba di antara begitu banyak hambaNya yang mengamalkan ibadah kepadaNya selama 500 tahun, ia menetap dan beribadah di sebuah puncak gunung yang berada di tengah laut. Lebar puncaknya 30 hasta dan panjangnya 30 hasta juga. Sedangkan jarak lautan tersebut dari masing-masing arah mata angin sepanjang 4000 farsakh. Allah menciptakan mata air di puncak gunung itu cuma seukuran jari, airnya sangat segar mengalir sedikit demi sedikit, hingga menggenang di bawah kaki gunung.

Allah juga menumbuhkan pohon delima, yang setiap malam dari pohon itu keluar satu buah delima matang untuk dimakan pada siang hari. Ketika hari menjelang petang, hamba itu turun ke bawah mengambil air wudhu’ sambil memetik buah delima untuk dimakan. Lalu ia melakukan shalat. Ia pun tak lupa berdoa kepada Allah SWT jika waktu ajal tiba agar ia diwafatkan dalam keadaan bersujud, dan mohon agar jangan sampai jasadnya rusak dimakan tanah atau lainnya sehingga ia dibangkitkan dalam keadaan bersujud juga.

Demikianlah kami dapati, ketika kami lewat di hadapannya dan jika kami menuruni dan mendaki gunung tersebut. Lalu, ketika dia dibangkitkan pada hari kiamat ia dihadapkan di depan Allah SWT, lalu Allah berfirman, "Masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga karena rahmatKu." Hamba itu menyela dan malah membantah, "Ya Rabbi, aku masuk Surga melainkan karena ibadahku."

Setelah itu Allah SWT kembali mengulang perintahNya, "Masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga karena rahmatKu." Tetapi hamba tersebut menyela dan membantahnya lagi, "Ya Rabbi, masukkan aku ke surga karena ibadahku."

Selanjutnya Allah SWT memerintahkan para malaikat, "Cobalah kalian timbang, lebih berat mana antara rahmat yang Aku berikan kepadanya dibanding dengan amal perbuatannya."

Setelah ditimbang maka ia mendapati bahwa kenikmatan penglihatan saja yang dimilikinya dari Allah lebih berat dibanding dengan ibadahnya selama 500 tahun, belum lagi kenikmatan anggota tubuh yang lain. Allah SWT berfirman, "Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke Neraka!" lalu ia diseret ke dalam api Neraka. Hamba itu selanjutnya berkata, "Ya Rabbi, sungguh benar karena rahmat-Mu, aku bisa masuk surgaMu, maka masukkanlah aku ke dalam SurgaMu."

Allah SWT berfirman, "Kembalikanlah ia ke hadapanKu." Lalu ia dihadapkan lagi di depan Allah. Allah SWT bertanya kepadanya, "Wahai hambaKu, Siapakah yang menciptakanmu ketika kamu belum menjadi apa-apa?" Hamba tersebut menjawab, "Engkau, wahai Tuhanku." Allah bertanya lagi, "Yang demikian itu karena keinginanmu sendiri atau berkat rahmatKu?"

Dia menjawab, "Semata-mata karena rahmatMu." Allah bertanya, "Siapakah yang memberi kekuatan kepadamu sehingga kamu mampu mengerjakan ibadah selama 500 tahun?" Ia menjawab, "Engkau Ya Rabbi." Lalu Allah bertanya, "Siapakah yang menempatkanmu berada di gunung di kelilingi ombak laut, lalu mengalirkan untukmu air segar di tengah-tengah laut yang airnya asin, lalu setiap malam memberimu buah delima yang seharusnya berbuah hanya satu tahun sekali? Di samping itu semua, kamu mohon kepadaKu agar Aku mencabut nyawamu ketika kamu bersujud, dan aku telah memenuhi permintaanmu!?" Hamba itu menjawab, "Engkau ya Rabbi."

Allah SWT berfirman, "Itu semua berkat rahmatKu. Dan hanya dengan rahmatKu pula Aku memasukkanmu ke dalam Surga. Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga! HambaKu yang paling banyak memperoleh kenikmatan adalah kamu wahai hambaKu." Kemudian Allah SWT memasukkanya ke dalam Surga." Malaikat Jibril AS melanjutkan, "Wahai Muhammad, sesungguhnya segala sesuatu itu terjadi hanya berkat Rahmat Allah SWT." (HR. Al-Hakim, 4/250)

Cerita di atas hendaknya membuat kita senantiasa ingat bahwa dalam hidup ini hanya rahmat Allah satu-satunya yang benar-benar kita harap dan tuju untuk meraih surga serta ridho-Nya, karena kita tidak akan pernah bisa mengandalkan ibadah yang terbatas kita untuk menukar dengan satu rahmatNya sekalipun. Semua amal kebaikan dan ibadah yang kita lakukan tidak lain sebagai upaya mencari ridho-Nya, yang dengan ridho itu semoga Allah juga memberikan rahmat kepada kita.

Marilah kita sama-sama memanfaatkan semua rahmat Allah yang sudah diberikan berupa iman, Islam, keselamatan dan kesehatan untuk bertakwa kepada Allah. Jangan sampai kita ingkar dengan rahmatNya dengan menggunakannya untuk bermaksiat atau bahkan menyekutukan Allah. Jangan pula berperilaku sombong dan percaya diri amal perbuatan kita yang akan menolong kita dari fitnah di hari kiamat dan neraka jahanam. Itu semua tergantung rahmat Allah. Kita harus tahu dan sadari itu.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait