Pojok Pantura

Faedah dan Hikmah Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW Menurut Beberapa Ulama

Pojok Pantura | PojokPantura.Com - Pujian-pujian kepada Nabi SAW dengan cara melantunkan shalawat dan membacakan sirah-sirahnya adalah salah satu bentuk kecintaan umat Islam kepada idolanya, sang suri tauladan terbaik, yakni baginda nabi Muhammad SAW. Hal ini dilakukan sejak zaman nabi SAW masih hidup.

Amalan-amalan memperbanyak shalawat dan membaca sirah-sirah nabi SAW yang ada di berbagai kitab maulid saat awal sampai pertengahan bulan Rabi’ul Awwal, itu bisa dikatakan bid’ah, karena memang tidak ada di zaman nabi SAW.

Dengan melihat fenomena tersebut, setidaknya kita dapat mendapat gambaran bahwa melakukan tradisi denga nisi seperti di atas, maka sesunggguhnya itu sebuah anjuran yang harus dilestarikan. Hal-hal tersebut menjadi ramai saat bulan Rabi’ul Awwal seperti sekarang. Antar mushala dengan mushala dan masjid dengan masjid, mereka saring saut menyaut shalawat kepada nabi SAW.

Dalam tulisan ini, akan sedikit membahas sedikit tentang faidah dan hikmah merayakan maulid nabi SAW menurut beberapa ulama’. Faidah dan hikmah dalam merayakan maulid nabi Muhammad SAW menurut beberapa ulama diantaranya sebagai berikut:

Imam Abu Sammah (guru dari Imam an-Nawawi)

Termasuk bid'ah hasanah pada zaman sekarang adalah hal-hal yang dilakukan setiap tahun bertepatan dengan hari kelahiran Rasulullah. yaitu memberi shodaqoh, berbuat kebajikan, menampakkan kegembiraan, menyantuni anak yatim dan lain sebagainya. Hal itu semua dilakukan untuk menyatakan cinta kepada Rasulullah dan bersyukur kepada Allah yang telah mengutus nabi Muhammad sebagai rahmatan lil a’lamin.

Imam as Sakhowi

Perayaan maulid nabi SAW baru diselenggarakan dengan semarak setelah 6 abad setelah Rasulullah wafat. Selanjutnya kaum muslimin dimanapun daerahnya, perkotaan maupun pedesaan senantiasa mengadakan perayaan maulid nabi. Pada malam perayaan, mereka memberikan shadaqah dan menikmati lantunan salawat dan membaca sirah-sirah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Syekh Ali Yafi'i Al Yamani

Barangsiapa untuk merayakan maulid nabi SAW, ia menyiapkan makanan, mengundang jama'ah, menyiapkan tempat, berbuat kebaikan dan menjadi pembaca sirah-sirah Rasulullah, maka kelak di hari kiamat ia akan dimasukkan ke dalam golongan, shiddiqin, syuhada, Shalihin dan mendapatkan jannatun Naim.

Imam Jalaluddin as-Suyuthi

Dalam kitabnya yang berjudul Wasail, Imam Jalaludin berkata, tidak ada rumah atau masjid atau tanah lapang yang digunakan sebagai tempat peringatan maulid nabi, kecuali akan dikelilingi para malaikat dan Allah akan menurunkan rahmatnya ke tempat tersebut. Dan tidak ada seorang muslim yang rumahnya digunakan sebagai tempat perayaan maulid nabi SAW, kecuali Allah akan mengangkat atau menghilangkan kelaparan, penyakit, bahaya, musibah, kedengkian, kemalingan dan lain-lain dari rumah tersebut. Dan ketika dia meninggal dunia, maka akan diberi kemudahan dalam menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir.

Imam Ma'ruf al-Karkhi

Barangsiapa untuk merayakan maulid nabi SAW dengan menyiapkan makanan, mengundang jama’ah, membaca sirah-sirah nabi SAW, memberikan penerangan di majelis itu, mengenakan pakaian yang bagus, memakai wewangian dan menghiasi dirinya, maka besok dari kiamat dia dimasukkan golongan para nabi dan dimasukkan ke dalam surga yang paling tinggi.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait