Pojok Pantura

Siapakah Perempuan Termulia ???

PojokPantura.Com - Dalam sejarah peradaban manusia di bumi, sudah banyak sekali perempuan-perempuan yang lahir dan mengambil peran penting dalam kehidupanbya. Sehingga membuat mereka dikenang sepanjang masa. Selain dikenang, juga mereka dipandang sebagai perempuan-perempuan mulia. Hal ini didasarkaan kepada pikiran, tindakan dan pengaruh hidupnya di masyarakat luas.

Perempuan mulia dipandang oleh sesama manusia. Nah, jika pertanyaannya siapakah perempuan termulia? Pastilah semua kemuliaan perempuan mulia yang dipandang manusia itu kalah dengan yang termulia ini. Jika jawabannya istri nabi, Siti Khadijah atau puteri nabi Siti Fathimah, ataupun RA. Kartini, jawaban itu semua salah. Jawaban yang tepat adalah Asiyah, isteri Fir’aun.

Jawaban di atas pastilah menuai perdebatan dan terkesan kontroversial. Tulisan ini bukan hendak mengecilkan kemuliaan siti Khadijah, siti Maryam dan siti Aisyah. Namun dilihat dari sejarahnya, memanglah perjuangan, kesabaran dan kepedihan Asiyah lebih berat jika dibandingkan tiga perempuan mulia lain di atas yang sudah dijamin masuk surga oleh nabi Muhammad. Karena ketiganya bisa dikatakan hidup dan berdampingan dengan orang-orang mulia. Sedangkan Asiyah hidup bersama raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan. Bisa dibayangkan betapa dzalimnya raja tersebut. Kepada siapapun pastinya.

Penilaian ini juga diterangkan dalam kitab Uqudul Lujain. Diterangkan bahwa Asiyah adalah istri dari seorang yang paling terkutuk di bumi. Karena Fir’aun adalah orang yang mengaku diri sebagai tuhan seumur hidupnya. Kehidupan Asiyah seharusnya mendorong ia pada kemewahan kerajaan dan kesombongan sang raja, yang membuatnya menjadi perempuan yang suka bersenang-senang. Ia juga seharusnya sah untuk berfoya-foya dan sewenang-wenang, asalkan dia bahagia.

Akan tetapi, Asiyah putri Muzachim beda dengan perempuan lain kebanyakan. Di saat ia punya segalanya di dunia, ia tak menikmatinya, bahkan terkesan berpaling darinya. Di tengah kungkungan kehidupan kafir itu, Allah menghendakinya menjadi seorang yang beriman kepada-Nya hingga ajal menjemput.

Makanya, ia disebut-sebut sebagai perempuan termulia di dunia yang pernah ada. Rasulullah saw. sendiri pernah menyebutnya sebagai satu dari tiga perempuan termulia: Khadijah, istri Rasulullah Saw.; Maryam, ibunda Nabi Isa as.; dan Asiyah, istri Firaun. Namun agaknya nama terakhir bisa dikedepankan dari yang lain.

Ini bisa dilihat dari sejarah hidupnya, karena dialah yang menyelamatkan nabi Musa a.s. dari perilaku Firaun yang keji dengan membunuh seluruh bayi bani Israil. Ia juga yang menyelamatkan nabi Musa AS saat masih kecil, dan saat akan dihukum oleh Firaun karena telah mempermainkan jenggotnya. Ia juga menyelamatkan nabi Musa a.s. dari sihir-sihir yang disematkan padanya.

Bahkan, saking mulianya Asiyah di mata Allah, ia dijadikan seperti standar kemuliaan dan pahala bagi perempuan-perempuan yang sudah menikah.

من صبرت على سوء خلق زوجها أعطاها الله من الأجر مثل ثواب آسية امرأة فرعون
Artinya: “Bagi perempuan yang bisa bersabar atas prilaku buruk suaminya, Allah akan memberikan pahala setara pahala Asiyah istri Firaun”.

Cerita Wafatnya Perempuan Termulia

Seberapa besarkah pahala Asiyah? Entah. Namun cerita di bawah ini bisa menjelaskannya. Telah sekian lama keimanan Asiyah dirahasiakan dari mata Firaun. Namun pada suatu hari di mana keimanan Asiyah tampak di mata sang suami. Seketika itu Firaun langsung murka.

Tak berlangsung lama. Hukuman baginya pun datang. Diikatlah kedua tangan dan kaki Asiyah. Tubuhnya ditelentangkan di atas tanah. Dibentangkannya kedua tangan dan kaki Asiyah ke empat arah. Di atasnya, matahari sedang terik-teriknya. Firaun tidak bisa menahan murka. Tak hanya siksaan Asiyah sampai di situ saja. Diperintahkannya para pengawal Fir’aun untuk mencari batu besar. Ia hendak menghantam tubuh istrinya sendiri. Istri yang ia cintai.

Sungguh betapa kejam sekali Fir’aun, walaupun kepada istrinya sendiri. Pengawal berhasil menemukan batu yang diinginkan. Mereka menggotongnya ke tubuh Asiyah. Melihat hal itu, maka sebelum batu itu menimpanya, Asiyah berdoa kepada Tuhannya, “Tuhanku. Bangunkan aku rumah di samping-Mu. Rumah di surga-Mu.”

Artikel Terkait: Bagi Kaum Pria, Begini Kriteria Jodohmu yang Baik Menurut Nabi SAW

Asiyah kemudian diperlihatkan oleh Allah apa yang dimintanya: Rumah besar dibangun dengan bebatuan mulia. Seketika itu malaikat mencabut ruhnya. Asiyah telah tiada sebelum batu besar menimpanya. Maka saat batu itu dihantamkan kepadanya, batu itu hanyalah menemui jasad tak bernyawa. Ia telah lebih dulu wafat dengan mulia dan tentunya bahagia.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait