Pojok Pantura

Nasional,

Komunitas Jawasastra Gelar Sayembara Misuh Internasional, Yang Menang Akan Menjadi Kaisar Misuh Sedunia

Pojok Pantura | PojokPantura.Com, Nasional- Sempat sukses gelar lomba misuh tahun 2018, lalu tahun 2019 gagal menggelar lomba misuh lagi. Dan tahun 2020 ini Komuitas Jawasastra kembali menggelar sayembara misuh internasional. Sayembaranya berupa pembuatan video berbahasa Jawa yang dibumbui kata-kata misuh.

Sayembara misuh internasional 2020 ini bertemakan #misuhi pandemic. Pelaksanaan tanggal 8 Juli 2020 – 7 Agustus 2020. Ketentuan peserta yakni makhluk hidup bumi minimal 18 tahun, individu/kelompok yang siap berdosa kecil/besar, tahu dan bisa misuh Jawa, punya akun IG aktif individu/kelompok.

Yani Srikandi (24), selaku ketua Komunitas Jawasastra mengungkapkan latarbelakang diadakan sayembara misuh ini adalah masyarakat sekarang menutup mata bahwa misuh sebenarnya termasuk kebudayaan kita dan banyak juga yang masih menganggap tabu atau saru.

"Jadi, yang selama ini banyak orang bayangkan bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang besar, sentris, maupun sesuatu yang luhung. Kita melupakan budaya pinggiran bentuk budaya itu (misuh) eksis. Kami menyadari bahwa kebudayaan misuh itu ada dan mengakuinya," kata Yani.

"Kami ingin menyalurkan hasil belajar kami ke masyarakat juga. Jadi, tidak ada jarak yang begitu jauh dalam pemaknaan budaya Jawa. Itu target muluk kami. Biar kita berpikir kritis bersama, orang itu nantinya nggak kagetan, nggak gampang ngomeni orang lain, kalau pemahamannya (budaya Jawa) makin luas kan makin njawani," jelasnya.

Teknis pelaksanaan pembuatan video misuh berbahasa jawa yakni berdurasi 3 menit, dilarang rasis dan seksis, upload video di IG masing-masing boleh personal/ kelompok, tag akun @jawasastra dan tulis deskripsi isi video di caption sertakan #misuhipandemi.

Komunitas Jawasastra sendiri kata Yani merupakan komunitas yang dibuat oleh mahasiswa dan alumni UGM jurusan Sastra Nusantara (Jawa) fakultas Ilmu budaya yang menaruh minat dan perhatian terhadap kebudayaan Jawa.

"Kami sering nongkrong bareng. Sering juga membuat kegiatan yang bersinggungan dengan kebudayaan Jawa. Namun, komunitas kami tidak terikat dengan kampus, kami juga dibantu dari alumni dari berbagai kampus yang memang menaruh perhatian kepada kebudayaan Jawa, bukan hanya sastra, kesenian, tapi secara keseluruhan," terangnya.

Yani juga mengenang pertama kali komunitasnya membuat sayembara misuh pada tahun 2018 yang berjalan sukses, namun 2019 gagal diadakan kembali dan tahun ini walaupun ada pandemic tapi tetap diadakan malah situasi sekarang dibuatkan tema #misuhpandemi

"Kebetulan 2018 lalu peminatnya banyak. Pengirim videonya sendiri ada yang melalui tim maupun individu. 166 video terkumpul saat itu. Kami ingin mengulang lagi sayembara misuh pada 2019 dengan tema lingkungan atau ekologi. Namun, gagal dilaksanakan karena situasi politik saat itu," kenangnya.

“Bicara soal target, Jawasastra sendiri ingin mengajak masyarakat khususnya masyarakat Jawa untuk memahami kebudayaan Jawa secara utuh. Jadi tidak hanya terbatas oleh kalangan, akademisi hingga sosiolinguistik yang memang kerap meneliti soal budaya misuh. Sedangkan, masyarakat masih menganggap misuh sebagai hal yang tabu”, pungkas Yani.

Pemenang juara 1 sayembara akan dinobatkan sebagai Kaisar misuh dengan memperoleh hadiah plakat, kopi, 3 buku, sertifikat misuh, kaos, mbako dan korek gas. Juara 2 menjadi wakil kaisar misuh, juara 3 menjadi sekertaris kaisar misuh dan juara 4-8 akan ditahbiskan menjadi staf ahli kaisar misuh.

Pojok 1 Pojok 2 Pojok 3
Source: instagram \ jawasastra

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait