Pojok Pantura

Desember Bulan Gus Dur: Ketika Gus Dur Dicium Lutut Kanannya Oleh Orang Turki Setelah Menjawab Sebab Tindakan Terorisme

PojokPantura.Com - Masyarakat Indonesia sudah familiar dengan ‘Juni adalah bulan Bung Karno’. Lalu masyarakat Indonesia dengan etnis dan agama apapun juga sudah mulai familiar dengan ‘Desember adalah bulan Gus Dur. Hal ini karena kepergian beliau beliau pada 31 Desember 2009 silam. Masyarakat Indonesia sampai sekarang masih kehilangan sosok beliau. Lebih-lebih saat Indonesia dihadapkan dengan permasalahan dalam menyikapi sebuah perbedaan.

Kala itu, mulai dari rakyat biasa sampai presiden, seluruh etnis dan pemeluk agama, serta kawan dan lawan, semuanya sama-sama hanyut dalam kesedihan setelah mengetahui kabar wafatnya seorang tokoh yang dijuluki sang guru bangsa tersebut. Dalam hidupnya ia habiskan untuk perjuangan kemanusiaan dan demokrasi. Hal itu beliau sungguh-sungguh lakukan ketika masih menjadi aktivis social, menjabat sebagai ketua umum PBNU 3 periode, Presiden RI 2 tahun sampai balik lagi menjadi rakyat biasa.

Cucu KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama ini, tak hanya mengajar di pesantren seperti layaknya keturunan kiai pada umumnya. Malahan beliau sering memberikan pengajaran dan tulisannya tentang Islam ramatan lil ‘alamin di luar pesantren. Banyak juga orang yang beranggapan bahwa sebelum kepulangan Gus Dur dari luar negeri untuk mencari ilmu, dunia pesantren belum dikenal banyak oleh masyarakat Indonesia. Lalu setelah kepulangan Gus Dur di awal tahun 70an, beliaulah yang menjadi humasnya pesantren sehingga pesantren sekarang sudah dikenal baik oleh masyarakat.

Haul yang sudah berjalan ke-11 kali pada tahun ini memberikan kita gambaran betapa masyarakat luas selalu merindukan sosok Gus Dur. Walaupun Haul Gus Dur ke-11 ini diadakan masih di tengah pandemic covid-19, namun tak menyurutkan para pecinta Gus Dur untuk menyelenggarakannya. Terbukti ada beberapa agenda Haul yang sudah dilaksanakan, baik dari dzuriyah Gus Dur, PBNU maupun komunitas pecinta Gus Dur lainnya. Sayangnya kita hanya bisa mengikutinya lewat platform media sosial. Jika taka da covid-19, mungkin akan bertambah banyak yang menyelenggarakannya.

Karena memang, semasa hidupnya, banyak sekali gagasan dan pikiran Gus Dur yang dituliskannya mampu memecah kebuntuan para pemikir lain dan sekaligus digandrungi oleh khalayak ramai. Selain terkenal dengan kepandaiannya dalam bergaul dan humor, Gus Dur pun masyhur dengan kepandaiannya dalam menyelesaikan persoalan atau menjawab pertanyaan rumit dengan jawaban yang sederhana namun mudah dipahami.

Salah satu bukti kepandaian yang disebut terakhir itu ditulisannya dalam buku berjudul “Gus Dur Bertutur”. Buku ini adalah kumpulan tulisan-tulisan Gus Dur yang dimuat oleh Harian Proaksi, yang kemudian dibukukan dengan bekerjasama dengan Gus Dur Foundation pada tahun 2005. Dalam salah satu tulisannya, Gus Dur menceritakan sendiri pengalamannya dalam sebuah forum di Lebanon. Dalam forum tersebut Gus Dur ditanya mengenai sebab terjadinya tindakan terorisme oleh seorang kolomnis perempuan dari Turki.

“Pada akhir tahun 2003, penulis diundang ke Beirut, Lebanon untuk mengikuti Rapat Kerja Regional Timur Tengah yang diadakan oleh Lebanese Institute For Economic and Social Development dan The Centre Liberte yang diikuti oleh sekitar 30 peserta dari seluruh kawasan Timur Tengah. Ketika penulis selesai memaparkan sebab-sebab adanya terorisme dari sudut pandang Islam, kemudian diadakanlah tanya jawab. Pada waktu akhir penyampaian pandangan ada seorang ibu dari Turki bertanya tentang sesuatu hal yang sangat menarik.”
“Ibu yang bernama Dr. Saliha Scheinhardt Sapcioglu yang banyak menulis untuk media Jerman secara luas mengatakan bahwa ia tinggal di sebuah kota kecil bernama Sivas Turki sudah 11 tahun lamanya. Ia tidak berani kembali lagi ke Jerman tempat dimana ia dididik dan kemudian bekerja untuk belasan tahun lamanya. Mengapa? Karena ia takut untuk menjawab sebuah pertanyaan. Pertanyaan itu adalah jika ia menyatakan bahwa jika Islam adalah agama toleran, ia akan ditanyai mengapa pada tahun 1993 lalu ada tindakan yang sangat mengerikan terjadi di Sivas yang mengakibatkan kematian 30-an orang intelektual Turki?
“Ia menceritakan kesaksiannya, ketika menghadiri sebuah seminar di kota itu, di tengah acara ia meninggalkan forum untuk membeli pasta gigi di sebuah swalayan di depan hotel. Ditempat itulah ia menyaksikan seorang mubaligh setempat memerintahkan penduduk untuk mengepung dan membakar hotel. Mengapa? karena ada seminar di hotel itu yang membahas mengapa Turki harus memilih sebagai negara sekuler. Karenanya mereka harus dihukum untuk pikiran-pikiran seperti itu. Pendapat seperti ini menurutnya tidak layak menjadi pandangan kaum muslimin sebagai akibat dibakarnya hotel lift tidak dapat berjalan dan para intelektual yang berjumlah puluhan orang mati terbakar dalam peristiwa tersebut. Ternyata hal itulah yangjuga demikian titik apa yang dia lakukan? Ia mencium lutut kanan penulis untuk menyatakan kegirangan atas jawaban penulis.
Jawaban penulis pada waktu itu, intinya hanya meminta agar kolomnis tersebut memahami bahwa dalam sejarahnya yang panjang, Islam membedakan tindakan ‘mengetahui’ (to know) dengan kemampuan ‘mengerti’ (to understand). Dengan mengetahui orang menjadi pandai (Arif) sedangkan mengerti atau memahami (alim) memerlukan sikap empati kepada persoalan yang dihadapi. Kalau orang mengetahui belum tentu ia mengerti dan demikian pula sebaliknya. Inilah yang harus dimengerti oleh ibu dari Turki tersebut. Mubaligh lokal itu bertindak demikian karena tidak mengerti bahwa tindakan memerintahkan pembakaran hotel tidak menyelesaikan permasalahan. Persoalannya ia tahu adanya perbedaan pandangan namun hanya diselesaikan melalui sikap membiarkan saja. Hal itu sehingga menjadi duri dalam daging kaum muslimin.

Dari gambaran tulisan Gus Dur di atas, nampak betapa jeniusnya Gus Dur (yang banyak orang anggap beliau mempunyai ilmu laduni) menjawab pertanyaan seorang kolomnis yang sebelas tahun kebingungan mencari jawaban atas keresahannya. Memang benar apa yang dikatakan Gus Dur dalam forum itu 15 tahun lalu bahwa banyak orang yang tahu adanya perbedaan. Namun beberapa golongan yang tidak mengerti bagaimana cara menyelesaikan atau menghadapi perbedaan tersebut.

Baca Juga: Tantangan Terbesar Santri Adalah Menangkal Paham Radikalisme, Ideologi Khilafah & Terorisme

Artikel ini ditulis oleh:

Muhammad Alfiyan Dzulfikar
Alumni Ponpes Lirboyo Al-Mahrusiyah dan Mahasiswa Pascasarjana UNUSIA Jakarta.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait