Pojok PanturaPojok Pantura

Keutamaan Menjaga Kertas Bertuliskan Kalimat Bismillahirrahmanirrahim

Keutamaan Menjaga Kertas Bertuliskan Kalimat Bismillahirrahmanirrahim

PojokPantura.Com - Ada banyak sekali dalil terutama dalam hadist yang menerangkan tentang keutamaan kalimat Bismillahirrahmanirrahim. Hal ini menandakan kalimat tersebut begitu penting, mulia dan suci untuk dilalaikan oleh umat Islam. Baik ditulis maupun diucapkan, kalimat. Bismillahirrahmanirrahim sama-sama memberikan keberkahan.

Namun seringkali kita saksikan sendiri, tulisan kalimat Bismillahirrahmanirrahim terjatuh di jalan atau tercecer di lantai. Melihat seperti itu, wajib hukumnya bagi kita untuk mengambil secarik kertas yang bertuliskan Bismillahirrahmanirrahim dan kemudian menjaganya agar tidak tercecer kembali.

Hal di atas sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa memungut kertas yang bertuliskan Bismillahirrahmanirrahim dari lantai, dengan niat supaya kalimat itu tidak tercemari oleh kotoran, tidak terinjak, dan dilakukan karena mengagungkan Allah, maka Allah akan memasukkannya ke dalam golongan as-Shiddiqin (para Wali Allah yang senantiasa membenarkan Ajaran Allah) disisi-Nya, dan kedua orang tuanya diampuni"

Ibnu Murduwiyah meriwayatkan dari Abu Sa‘id, Rasulullah bercerita bahwa Nabi Isa AS pernah dibimbing oleh seorang guru untuk belajar menulis. Gurunya mengatakan, “Tulislah.” “Apa yang harus kutulis?” kata Nabi Isa. “Bismillah,” kata gurunya. “Apa itu bismillah?” tanya Nabi Isa. “Aku sendiri tidak tahu,” kata gurunya. Nabi Isa menjawab, “Ba-nya itu baha’ullah (keelokan Allah). Sin-nya sana’uhu (keagungan-Nya). Mim-nya mamlakatuhu (kekuasaan-Nya). Allah ilahul alihah (Tuhan para tuhan). Ar-rahman rahmanud dunya (pengasih dunia). Ar-rahim rahimul akhirah (pengasih akhirat).”

Karena kandungan makna kalimat Bismillahirrahmanirrahim teramat dalam dan mulia inilah yang membuat Rasulullah begitu perhatiannya terhadap kalimat Bismillahirrahmanirrahim ini. Sehingga memerintahkan umatnya untuk menjaganya dengan baik seperti hadist di atas.

Kisah Preman Menjadi Waliyullah Sebab Menjaga Tulisan Bismillahirrahmanirrahim

Syekh Fariduddin al-Atthar dalam kitabnya Tadzkiratul Auliya menceritakan kisah taubatnya Bisyr Al Hafi. Beliau masyhur sebagai seorang sufi besar, guru dari Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam kesehariannya, Bisyr tidak pernah memakai alas kaki ke manapun berpergian. Maka Allah memuliakan Wali-Nya itu dengan seakan-akan memerintahkan hewan-hewan yang ada di jalanan kota Baghdad untuk tidak membuang kotoran sembarangan. Terbukti, sepanjang beliau berjalan, tak ditemukan satupun kotoran hewan di jalan yang akan dilaluinya.

Banyak orang yang menganggap bahwa karomah-karomahnya itu sebab beliau suatu ketika memungut dan kemudian menjaga dengan sangat baik kertas yang ada kalimat Bismillahirrahmanirrahim. Padahal semasa mudanya, Bisyr al-Hafi adalah seorang preman yang gemar maksiat. Sehari-harinya dihabiskan untuk bermabuk-mabukan, sering berbuat onar dan mendengarkan musik ditemani para budak-budak wanita.

Namun ada satu hari yang membuat kehidupannya berubah drastis. Ketika dalam keadaan mabuk, ia berjalan sempoyongan. Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, ia melihat secarik kertas bertuliskan Bismillahirrahmanirrahim. Tanpa pikir panjang, beliau lalu bergegas membawa secarik kertas itu untuk dibawa pulang dan membersihkan kertas itu dari kotoran yang menempel. Tak sampai disitu, beliau pun membeli minyak wangi untuk memerciki kertas tersebut.

Malam harinya, Bisyr al-Hafi bermimpi mendengar suara yang amat jelas, "Demi KebesaranKu, Engkau telah mensucikan namaKu, maka akupun akan mensucikan dirimu di dunia dan di akhirat. Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun akan mengharumkan dirimu di dunia dan di akhirat. Engkau telah meninggikan nama-Ku, maka Aku pun akan meninggikan dirimu di dunia dan di akhirat".

Ketika bangun dari tidurnya ia merasakan semua nafsu untuk bermaksiat di dalam dirinya seakan sirna. Ia begitu ingin bertaubat dan kembali kepada Allah. Maka ia pun memutuskan untuk bertaubat dengan sebelumnya berpamitan dulu kepada teman-teman lamanya, “Sahabat, aku dipanggil, oleh karena itu aku harus meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tak akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan yang semacam ini lagi” .

Baca Juga: Kisah Penasaran Sahabat Abdullah bin Amr bin Ash Tentang Amalan Seorang Ahli Surga yang Dibicarakan Rasulullah

Semenjak itu, kehidupan Bisyr al-Hafi menjadi lebih dekat dengan Allah SWT. Beliau kemudian lebih senang menyibukkan dirinya dengan berkumpul dengan orang-orang saleh, mengaji kepada beberapa ulama’ untuk menjadi orang yang bertaqwa. Berawal dari memuliakan kalimat Bismillahirrahmanirrahim sampai pada akhirnya, Allah mengangkatnya sebagai salah satu kekasihNya.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait