Pojok PanturaPojok Pantura

Pentingnya Peran Perempuan NU Dalam Pendidikan Moderasi Beragama Di Lingkup Keluarga

 Pentingnya Peran Perempuan NU Dalam Pendidikan Moderasi Beragama Di Lingkup Keluarga | pendidikan moderasi beragama dalam keluarga harus diselenggarakan. Berarti peran perempuan atau ibu harus dimaksimalkan | Pojok Pantura

Latar Belakang Dan Pengertian Moderasi Beragama

Menurut banyak pengamat, aksi 411 dan 212 saat proses Pilkada DKI Jakarta itu meningkatkan semangat kelompok teroris dan memunculkan beberapa organisasi teroris baru. Beberapa teror bom dan penyerangan fisik yang menewaskan korban jiwa pasca aksi tersebut yang dilakukan oleh kelompok-kelompok terorisme di antaranya bom panci di Bandung dan Kampung Melayu Jakarta, kerusuhan di Mako Brimob Depok, bom bunuh diri satu keluarga di Surabaya, Pasuruan dan Sidoarjo, penyerangan ke Mapolda Riau, bom bunuh diri pasutri di Makassar dan yang terakhir, penembakan di Mabes Polri oleh seorang perempuan.

Akibat aksi-aksi di atas, otomatis membuat umat Islam sebagai agama pelaku teror, merasa disalahkan. Umat agama lain pun merasa khawatir dan ketakutan karena aksi-aksi teror itu menyasar tempat publik dan ibadah. Perasaan dan pandangan umat beragama itulah yang harus didinginkan dan didamaikan. Jangan sampai itu menjadikan antar umat beragama di adu domba oleh segelintir kelompok teroris dan intoleran. Salah satu caranya yakni dengan memupuk moderasi beragama.

Kemudian, adanya perempuan dan anak-anak sebagai pelaku bom bunuh diri di beberapa tempat membuat pendidikan agama yang rahmatan lil ‘alamin sesuai yang diajarkan rasulullah SAW harus ditanamkan sejak dini. Maksudnya di mulai sejak dalam keluarga. Tujuannya jelas, agar pemahaman agama dalam sebuah keluarga tak sempit, kaku dan keras. Oleh karenanya dalam keluarga, selain belajar tauhid dan syariat, juga perlu ada pendidikan terkait moderasi beragama. Karena bagaimanapun, latar belakang bangsa Indonesia yang multikultural menjadikan moderasi beragama sebagai sebuah keharusan dalam menjaga persatuan dan kesatuan sampai kapanpun.

Secara terminologi “moderat” berarti suatu sikap atau tindakan yang dilakukan sesuai dengan proporsinya, tidak berlebihan demikian pula tidak kurang. Orang yang bersikap moderat berarti orang yang tidak hanya berfikir dan mementingkan dirinya sendiri saja, tetapi mempertimbangkan secara keseluruhan dan semua pihak diperlakukan secara seimbang. Dalam ajaran Islam, kata moderasi lebih dekat dengan arti waṣaṭiyah, yang berarti tengah. Allah swt berfirman QS al-Baqarah/2:143

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا
“Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia. Dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu.”

“Ummatan Wasathan” dalam ayat di atas berarti umat yang adil, yang tidak berat sebelah, baik ke dunia maupun ke akhirat, konservatif maupun liberal, tetapi seimbang di antara keduanya. Jadi bisa dikatakan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk memiliki sikap/gerakan wasathan/moderasi dalam beragama. Memang sikap berimbang dalam mengimpelementasikan ajaran agama, baik dalam intern sesama pemeluk agama maupun ekstern, antar pemeluk agama wajib dilangsungkan dalam kehidupan beragama. Tak hanya dampak buruk pemahaman yang cenderung radikal atau konservatif, pemahaman liberal dalam beragama juga perlu dihindari. Mengingat pemahaman liberal dalam Islam bertujuan untuk merobohkan bangunan ajaran Islam yang sudah kokoh dengan tak segan menggunakan metodologi kajian agama lain, HAM perspektif barat dan falsafah sekulerisme.

Dengan demikian, pendidikan moderasi beragama dalam keluarga harus diselenggarakan. Berarti peran perempuan atau ibu harus dimaksimalkan. Bagaimanapun melakukan peran atau kerja tersebut perlu adanya sebuah modal, maka modal terbaik perempuan (dalam hal ini ibu) adalah dengan mengaji di pengajian yang materinya terkait keislaman yang ramah, damai, moderat dan toleran. Supaya ketika ia dan anaknya diajak untuk ‘jihad’ bisa ditolak karena modal pemahamannya yang moderat itu.

Eksistensi Perempuan NU Di Indonesia

Eksistensi Perempuan-perempuan NU dalam hal ini lewat organisasi Fatayat dan Muslimat sudah lama mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia. Keduanya sama-sama dilahirkan pasca kemerdekaan dan dikekang ketika masa orde baru. Namun khusus Fatayat, di akhir-akhir masa orde baru, muncul di internal organisasi pemudi NU kegemaran mengkaji kerakan perempuan perspektif gender. Salah satu tujuannya agar perempuan NU khususnya dan umumnya perempuan Indonesia diposisikan adil di tengah-tengah masyarakat umum, yang dulu patriarki.

Gerakan tersebut setidaknya sampai hari ini menghasilkan pembangunan dan pemberdayaan yang partisipatif untuk laki-laki dan perempuan. Selain Gerakan tersebut yang diprogramkan lewat pelatihan analisis-analisis, perempuan NU juga selalu menghadirkan program pemberdayaan ekonomi dan kesehatan perempuan. Serta yang tak kalah penting, perempuan NU mulai struktur yang paling atas sampai bawah selalu mengagendakan pengajian rutin.

Dari zaman ke zaman pengajian rutin memang menjadi agenda wajib perempuan NU. Baik diselenggarakan oleh intern maupun untuk masyarakat umum. Di sadari atau tidak pengajian demi pengajian yang diikuti oleh perempuan NU nyata menyelamatkan mereka pada pemahaman agama yang ekstrem. Mereka sukses mentradisikan pengajian yang di dalamnya ada wiridan, sema’an al-Qur’an, pembacaan shalawat, pembacaan manaqib dan tentunya mauidzoh hasanah. Buktinya, sampai hari ini tak seorang perempuan pun, baik yang aktif maupun hanya partisipan pengajian NU yang terpapar paham ekstrem, baik radikal maupun liberal.

Penyebabnya bisa dilihat bahwa agenda pengajian yang dilakukan oleh perempuan NU tak terlihat adanya ekslusufisme. Malah bersifat gotong royong, damai, ramah dan penyampaian materi ceramahnya pun selalu mendorong agar jama’ah memiliki sifat toleran dan moderat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, program-program yang dilakukan perempuan NU, terutama pengajian rutin jadi modal mereka dalam moderasi beragama. Bukti suksesnya moderasi beragama dalam tubuh dan jiwa perempuan NU yakni banyak pihak yang ingin dan senang bekerjasama dan guyub rukun dengan perempuan NU dalam segala tingkatan.

Peran Perempuan Nu Dalam Pendidikan Moderasi Beragama Di Lingkup Keluarga

Menumbuhkan sikap moderasi tidak langsung hadir begitu saja lewat satu, dua kali ikut pengajian. Namun melalui konstruksi pemahaman yang mapan dan pengimplementasian ilmu pengetahuan sesuai dengan tuntunan agama secara konsisten, membuat moderasi beragama otomatis bisa berlangsung. Setelah modal moderasi beragama yang didapat melalui kegiatan, terutama pengajian, maka perempuan NU sebagai seorang ibu bisa mengimpelemtasikannya di dalam lingkup keluarga.

Dalam pengimpelemtasian pendidikan moderasi beragama bagi anak di lingkup keluarga tentu tak bisa mengesampingkan faktor bapak/suami. Namun faktor ibu/perempuan yang paling dekat dan sering bersama anak-anaknya ini yang harus lebih didorong perannya dalam hal ini. Penguatan pndidikan moderasi beragama dapat menggunakan lima metode yakni sebagai berikut:

Penguatan Moderasi Beragama melalui Pendidikan Keteladanan

Penguatan pendidikan moderasi beragama dalam keluarga diawali dengan calon/orang tua/ibu harus mendidik dirinya sendiri. Anak menjadi peniru ulung. Segala informasi diterima anak, baik melalui penglihatan ataupun pendengaran dari orang dan lingkungan sekitarnya, Metode Penguatan Pendidikan Moderasi Beragama termasuk dari orang tua yang membentuk karakter anak tersebut. Ibu berperan dalam memengaruhi anak melalui sifatnya yang menghangatkan, menumbuhkan rasa diterima, dan menanamkan rasa aman pada diri anak. Mengembangkan sikap beragama yang moderat dapat dilakukan dengan tidak mudah menyalahkan sesama anggota keluarga. Keluarga yang damai dan harmonis dapat membentuk kepribadian yang lembut. Kelembutan sumber dari terciptanya kedamaian bagi nilai dan sikap seseorang. Sikap pemaaf dan menguatkan akan mengantarkan anak pada tumbuhnya pribadi yang welas asih. Pribadi welas asih tidak suka dengan kata-kata atau tindakan kasar.

Penguatan Pendidikan Moderasi Beragama dengan Kebiasaan

Penguatan pendidikan moderasi beragama dengan kebiasaan ini merupakan lanjutan dari penguatan pendidikan melalui teladan. Jika pada tahapan awal anak menirukan ibu/orang tuanya, dan terjadi internalisasi nilainilai moderasi beragama, pada tahap selanjutnya anak akan menganggap bahwa internalisasi nilai-nilai itu sebagai sebuah kebiasaan yang harus dilakukannya. Dengan demikian, anak akan dengan mudah menerapkan bekal kebiasaan itu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kelak dalam hidupnya.

Penguatan Pendidikan Moderasi Beragama dengan Nasihat

Kesatupaduan antara ucapan dan tindakan menjadi nasihat yang ampuh dalam menerapkan pendidikan moderasi beragama bagi anak. Nasihat yang baik dan disampaikan dengan cara yang baik, serta dicontohkan dengan baik akan membuka jalan ke dalam jiwa anak secara langsung melalui perasaan. Perasaan ini yang harus dijaga agar ditumbuhi emosi-emosi positif tentang dunia dan segala isinya. Lebih jauh lagi untuk mengenal kekuasaan Allah Swt. Sebagai manusia yang minim pengalaman, pada dasarnya anak membutuhkan nasihat. Selain itu, dalam jiwa anak terdapat pembawaan yang biasanya tidak tetap. Dengan demikian, kata-kata atau nasihat harus diulang. Nasihat akan berhasil atau mempengaruhi jiwa anak, tatkala orang tua mampu memberikan keadaan yang baik.

Pendidikan dengan Perhatian

Pendidikan dengan perhatian adalah mencurahkan, memperhatikan, dan senantiasa mengikuti perkembangan anak dalam pembinaan akidah dan moral, persiapan spiritual dan sosial, di samping selalu bertanya tentang situasi pendidikan jasmani dan daya hasil ilmiahnya. Tanggung jawab yang melekat pada ibu menciptakan sebuah kondisi ibu harus menjadi sahabat bagi anaknya. Sahabat tidak menyakiti, sahabat selalu ada dalam suka dan duka, sahabat tidak menggurui, sahabat selalu mau meluangkan waktu untuk bercertia. Orang tua yang baik senantiasa akan mengoreksi perilaku anaknya yang tidak sesuai dengan norma hidup beragama, berbangsa, dan bernegara. Apabila orang tua mampu membuktikan penuh kasih sayang dengan memberikan perhatian yang cukup, niscaya anak akan menerima pendidikan moderasi beragama dari ibu/orang tuanya dengan penuh perhatian juga.

Penguatan Pendidikan Moderasi Beragama dengan Memberikan Hukuman

Hukuman diberikan bukan untuk menyakiti. Hukuman diposisikan sebagai penyeimbang dari semua pendidikan moderasi beragama di atas. Hukuman juga harus memperhatikan level pertumbuhan dan perkembangan anak. Hukuman dipilih jika metode lain tidak mampu untuk mengubahnya. Hukuman adalah wujud dari ketegasan sikap dari orang tua. Jika anak belum bisa bersikap toleransi dan menghormati, maka perlu masa untuk menanamkannya dalam diri anak. Orang tua perlu mengenal siapa dan bagaimana watak anaknya. Karena terkadang sikap negatif yang dimunculkan anak adalah bentuk dari proses kecerdasannya. Sehingga harus berhati-hati dalam menyikapinya agar tidak terjadi trauma pada anak yang dapat mematahkan daya kreatif dan inovasinya. Anak dapat belajar bahwa tindakan tertentu benar tidak menerima larangan dan tindakan lainnya melanggar suatu undang-undang.

Dengan pemaparan di atas, keluarga dalam hal ini perempuan NU sebagai calon/ sedang menjadi orang tua, dapat menerapkan kelima metode penguatan pendidikan moderasi beragama bagi anaknya disesuaikan dengan kebutuhan. Tapi yang paling utama adalah perempuan NU harus memahami nilai-nilai moderasi beragama sehingga bisa melestarikan nilai-nilai beragama tersebut kepada anak-anaknya. Hal demikian merupakan bukti bahwa sebelum mendidik orang lain, bahkan anak sendiri, mereka harus memiliki pemahaman beragama yang moderat untuk menjaga kedamaian di bumi pertiwi.

Berbagi Itu Peduli