Pojok PanturaPojok Pantura

Beribadahlah Sesuai Kemampuan Diri Sendiri

Beribadahlah Sesuai Kemampuan Diri Sendiri

Pojok Pantura | PojokPantura.Com - Seluruh hukum syariat di dalam agama islam sesungguhnya jauh dari segala tendensi memaksa. Umat Islam hanya dituntut untuk selalu beramal dan beribadah sesuai dengan kemampuan atau qudrah yang dimiliki seorang hamba. Karena sebagaimana prinsipnya, Allah SWT tidak pernah membebani seseorang di luar batas kemampuannya.

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan faktor kemanusiaan. Orang bisa jatuh sakit jika terlalu letih melakukan suatu pekerjaan. Orang bisa bangkrut apabila menafkahkan semua hartanya tanpa sisa. Orang pun bisa berselisih dengan istri dan anak-anaknya, jika dia terlalu memikirkan urusan akhiratnya tetapi sama sekali tidak pernah memikirkan atau berusaha bekerja untuk menghidupi keluarganya. Bahkan, apabila yang melakukan ibadah secara berlebihan tersebut adalah orang yang bodoh, maka dia justru akan menjadi sasaran empuk bagi setan untuk menggelincirkan dan menyesatkannya.

Manusia dalam kaitannya memahami kemampuan beribadahnya terbagi menjadi dua. Pertama: mereka yang ifrat (berlebih-lebihan) dalam beribadah dan beramal sholeh. Sehingga ia membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak mampu atau berat ia wujudkan. Ia menyimpulkan hukum lewat teks-teks dalil semata. Tidak pernah melihat kondisi dan kapan hukum itu dikerjakan. Lebih dari pada itu, ia bahkan terkadang berani mencela setiap orang yang menyelisihi pendapatnya. Sedangkan kelompok yang kedua: mereka yang cenderung tafrit (meremehkan), mengurangi syariat dan meninggalkan sesuatu yang diwajibkan kepadanya dengan alasan tidak mampu atau beralasan dengan tardarruj (dilakukan secara bertahap). Padahal sejatinya ia mampu mengerjakan amal tersebut.

Semua sikap kelompok diatas tidak dibenarkan dalam menjalankan syariat Islam. Karena mereka yang memahami syariat, pasti akan menjalankan agama dengan cara berada pada titik pertengahan, tidak condong pada sikap ifrat dan tidak pula cenderung kepada sikap tafrit.

Dalil-Dalil Beribadah Sesuai Kemampuan

Memerhatikan kemampuan dalam menjalankan syariat adalah hal yang wajib dilakukan. sebab, sudah menjadi syarat dalam syariat bahwa setiap penerapan hukum harus sesuai dengan kemampuan hamba. Jika benar-benar tidak mampu melakukannya, maka ia diberi keringanan (udzur) untuk mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya atau bahkan tidak mengerjakannya sama sekali.

Islam telah mengatur ekosistem kehidupan menurut sunnatullah yang membawa berkah bagi semua. Bahkan keseimbangan tersebut sekaligus menunjukkan keindahan Islam. Dalil yang mewajibkan kita untuk memerhatikan batas kemampuan dalam menjalankan hukum syariat cukup banyak sekali. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَىٰ
Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah). (Thaahaa:2-3)
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu..” (At-Taghabun: 16)
لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

Ketika menafsirkan surat al-Baqarah ayat 286 diatas, Ibnu katsir berkata, “Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuan hamba, dan ini adalah dari kelembutan Allah ta’ala kepada makhluknya serta bagian dari sifat pemurah dan kasih sayang Allah kepada mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/737)

Sebuah nasihat dari ulama besar, Maulana Syaikh dokter Yusri Rusydi Jabr tentang bagaimana kita memperlakukan nafsu dalam beribadah kepada Allah. Beliau berkata "Maka, jika kamu sedang tidak semangat ibadah ataupun sudah lelah, ya tidak usah dipaksakan, tidak usah pakai alat atau tali menopang kamu berdiri dan lain sebagainya."

Perkataan itu selaras dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Anas RA, beliau berkisah bahwa suatu ketika Rasulullah SAW masuk masjid dan menjumpai tali yang memanjang diantara tonggak masjid.

Lantas nabi bertanya, "tali apa ini?"

Para sahabat menjawab, "ini adalah tali milik Zainab untuk sholat, apabila dia malas atau lemah maka dia berpegangan dengan tali ini."

Mendengar jawaban itu nabi bersabda, "lepaskan tali ini, setiap orang sholat sesuai kemampuannya, kalau dia malas atau telah letih maka hendaklah duduk."

Ada hadis lain dengan pesan yang hampir sama, hadist ummul mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu'anha.

إذا نعس أحدكم في صلاته فليرقد حتى يذهب عنه النوم فإن أحدكم وهو ناعس يذهب يستغفر فيسب نفسه (رواه البخاري ومسلم)
"Jika salah seorang diantara kalian mengantuk dalam salatnya, hendaklah ia tidur terlebih dahulu hingga hilang kantuknya. Karena jika salah seorang dari kalian tetap salat, sedangkan ia dalam keadaan mengantuk, ia tidak akan tahu, mungkin ia bermaksud meminta ampun tetapi ternyata ia malah memaki dirinya sendiri."

Banyak pelajaran berharga dari hadis tersebut. Sebenarnya banyak hadis yang sejenis. Seperti kita diperintahkan untuk mengakhirkan salat jika cuaca sedang panas-panasnya. Juga seingat saya, kita disuruh makan terlebih dahulu, jika kita menginginkan makanan yang memang sudah tersedia. Dan seterusnya.

Tidak bermaksud sama sekali untuk menurunkan motivasi dan semangat dalam beribadah. Tapi kita dalam beribadah dianjurkan untuk "menakar" kemampuan diri. Jangan sampai akhirnya cuma semangat di awal-awal saja. Tapi kemudian bosan di tengah jalan dan malah akhirnya meninggalkan ibadah itu.

Akan lebih baik, jika ibadah bisa istiqomah dan konsisten, meskipun sedikit yang bisa dilakukan. Sebab sampai pada batas itulah kemampuan seseorang. Lebih dari itu, kadang karena memaksakan diri yang berujung pada keterpaksaan yang pada akhirnya dikhawatirkan seseorang itu tidak bisa konsisten. Sebab merasa bosan atau tertekan. Padahal ibadah itu hal yang sepatutnya harus disyukuri dan dinikmati.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait