Pojok Pantura

Beberapa Pesan Moral dan Untaian Doa Dalam Qasidah Burdah

PojokPantura.Com - Hari maulid nabi Muhammad SAW sudah lewat beberapa hari kemarin. Tapi sanjungan, pujian dan shalawat dari umatnya untuk beliau tak akan lekang oleh waktu. Hal ini akan dilakukan terus menerus karena Allah-lah yang memerintahkan langsung untuk bershalawat kepada nabi SAW dalam al-Qur’an. Selain itu, bershalawat adalah bukti cinta umatnya kepada nabi SAW, sang pembawa syafaat di hari kiamat nanti.

Salah satu media kebersamaan dalam bershalawat kepada nabi SAW adalah sebuah qasidah. Salah satu yang popular adalah qasidah Burdah. Tak melulu dibaca dengan berjama’ah, Burdah juga seringkali dibaca saat dalam kesendirian, semisal saat santri sedang menggembala kambing kyainya.

Qasidah ini seakan-akan menjadi bacaan wajib bagi sebagian besar umat Islam di dunia yang ingin bershalawat dan mengagungkan nama, sifat dan perilaku nabi Muhammad SAW. Selain tentunya kitab Ad-Diba’ dan Barzanji yang juga digemari umat Islam untuk dibaca dan senandungkan untuk fungsi yang sama.

Jika kita mau belajar dan pahami betul isi qasidah Burdah ini, ada berbagai keistimewaan yang terkandung dalam setiap bait syairnya. Maka dari itu ada banyak sekali ulama yang hafal di luar kepala 160 bait syairnya. Karena memang qasidah ini akan membawa kita kepada kerinduan dan kecintaan yang mendalam kepada nabi SAW.

Qasidah Burdah, selain tentunya berisi untaian-untaian kalimat kerinduan, kecintaan, dan pujian kepada nabi Muhammad SAW, juga berisikan pesan moral dan untaian doa. Pesan moral yang membuat kita dapat bertafakkur dan untaian doa pada Allah melalui wasilah shalawat dan pujian kepada nabi SAW.

Untaian Doa Dalam Burdah

فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ ۞بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ
Bagaimana kau dapat mengingkari cinta, setelah saksai-saksi yang adil menyaksikan deraian air mata padamu, dan jatuh sakitnya dirimu.

Dapat dilihat dalam penggalan syair di atas dan dalam sejarahnya pula, penyebab utama qasidah burdah diciptakan oleh sang pengarang saat itu adalah untuk berdoa kepada Allah lewat wasilah shalawat dan pujian kepada nabi SAW.

Sang Pengarang, Imam Bushiri (610 H– 695 H/1211 M–1294 M) yang kala itu menderita sakit lumpuh tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa meratapi sakitnya di atas tempat tidur, karena semua dokter yang merawatnya tak sanggup lagi mengobatinya.

Akhirnya sambil terbujur lemah di atas ranjang, Imam Bushiri memutuskan untuk menggubah sebuah qasidah khusus ditujukan kepada nabi SAW. Setelah rampung qasidahnya, dalam mimpi, Imam Bushiri didatangi oleh nabi Muhammad SAW. Nabi yang dishalawati dan dipuji-pujinya itu datang dengan membawa sebuah selimut bercorak garis-garis (yang dalam bahasa Arab artinya Burdah). Nabi SAW lalu mengusap kepala Imam Al-Bushiri dan menyelimutinya. Secara ajaib penyakit beliau sembuh seketika dan Imam Bushiri langsung menamai qasidahnya itu dengan nama qasidah Burdah.

Berikut beberapa syair dalam qasidah Burdah yang berisikan untaian doa pada Allah lwat wasilah Nabi SAW

يِا رَبِّ بِالمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا ۞وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الكَرَمِ
Wahai Tuhanku, dengan wasilah Al-Musthafa (Muhammad SAW) sampaikanlah cita-cita kami. Dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Zat Yang Maha Pemurah.
يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَالِيْ مَنْ أَلُـــوذُ بِهِ ۞سِوَاكَ عِنْدَ حُلُولِ الحَادِثِ العَمَمِ
Wahai makhluk paling mulia, tiadalah tempat perlindungan hamba selain engkau tatkala huru-hara kiamat melanda semua manusia.
خَدَمْتُهُ بِمَدِيحٍ أَسْتَقِيلُ بِهِ ۞ذُنُوبَ عُمْرٍ مَّضٰى فِي الشِّعْرِ وَالنَّدِمِ
Kupuja nabi dengan pujian, kumohon dengan itu ada pengampunan dosa –dosa yang lalu, dalam syair dan sanjungan.

Pesan moral dalam Burdah

Salah satu kelengkapan qasidah burdah, yakni adanya sekian banyak pesan moral yang terkandung dalam syair-syairnya. Hal tersebut menandakan bahwa Imam Bushiri selain mahir dalam sastra Arab sehingga sarat makna, beliau pun termasuk ahli hikmah. Buktinya beberapa bait syair mengenai pesan moral dalam Burdah di bawah ini.

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ
Nafsu itu seperti bayi, bila kau biarkan maka akan tetap menyusu dengan senangnya. Namun bila kau sapih itu bayi maka ia akan berhenti.
فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ ۞إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ
Maka palingkanlah nafsumu dari kesenangan, takutlah jangan sampai ia memiliki kekuasaan. Sesungguhnya nafsu jika berkuasa akan membunuhmu atau membuatmu cela.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait