Pojok PanturaPojok Pantura

Puisi Untuk Orang Yang Gelisah Dengan Rizkinya

Puisi Untuk Orang Yang Gelisah Dengan Rizkinya

Pojok Pantura | PojokPantura.Com - Dalam proses penciptaan manusia, Allah SWT sudah menentukan taqdir setiap manusia ketika ia berusia empat bulan di perut ibunya. Nabi Muhammad SAW menceritakan secara detail proses penciptaan manusia dalam sebuah hadist yang tertulis di kitab Shohih Bukhori hal. 6594 dan Shohih Muslim hal 2643 yang berbunyi:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya berupa saripati mani (nuthfah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.”

Salah satu perkara yang sudah di taqdirkan Allah saat menciptakan manusia adalah rezeki. Rezeki atau “ar-rizqu” menurut ibnu al-Mandzur Rahimahullah dalam kitabnya lisan al ‘arab, terdiri dari dua macam, pertama yang bersifat dhohir atau tampak terlihat, semisal bahan makanan pokok, pakaian, rumah,harta kekayaan ataupun jabatan. Kedua rezeki yang bersifat batin, yaitu hal yang berhubungan dengan hati, jiwa, ataupun, berbentuk pengetahuan, dan ilmu-ilmu. Melihat pengertian yang disampaikan ibnu al-Mandzur, maka kita dapat mengetahui bahwa hakikat rizki tidak hanya berwujud harta, atau materi saja. seperti asumsi kebanyakan orang. Tetapi rizki itu bersifat lebih luas lagi, semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati seorang hamba, termasuk kita bernafas pun terhitung sebagai rezeki dari Allah SWT.

Dengan memahami hadist diatas, seharusnya setiap orang tidak perlu bingung dan gelisah lagi soal rezeki, karena Allah sudah menjamin rezeki kita di dunia. Tinggal kita ikhtiar dan berdoa saja, apalagi salah satu sifat Allah swt dalam asmaul husna adalah ar-Rozaq yang artinya maha pemberi rezeki. Namun tetap saja terkadang kita gelisah soal rezeki ketika hidup kita dalam keadaan kekurangan atau bahkan tidak punya apa-apa. Ada beberapa kisah menarik dan inspiratif terkait kebingungan seseorang soal rezekinya. Salah satunya ada cerita seseorang ditegur oleh Allah melalui bait-bait puisi ketika ia putus asa tidak mendapatkan rezeki untuk dimakan. Dalam kitab Roudl ar-Royahin fi Hikayat ash-Sholihin halaman 279 yang dikarang oleh 'Afif ad-Din 'Abdillah al-Yafi'iy (W. 768 H). Beliau menveritakan bahwa:

Konon, dahulu kala di Jazirah Arabia, seorang laki-laki tengah dirundung malang. Ia mengalami kesulitan ekonomi dan tergolong orang yang tak punya apa-apa. Hari-harinya dilalui dalam keadaan lapar. Suatu hari, ia ingin keluar rumah guna menghilangkan kesusahan ini. Maka ia pun keluar dengan wajah tanpa gairah dan badan yang lesu.

Kakinya terus melangkah tak tentu arah sampai memasuki padang pasir yang luas. Matanya tertumbuk pada puing-puing istana yang sudah hancur. Semula istana itu tertimbun debu pasir, lalu angin kencang menerbangkannya sehingga menyingkap puing istana itu. Dia kemudian memeriksa setiap sudut di dalam istana tersebut. Tiba-tiba ia melihat di sebuah tembok sebuah prasasti pualam hijau yang berupa puisi yang indah. Ia membacanya dengan hati berdegup:

لما رأيتك جالسا مستقبلا#أيقنت أنك للهموم قرين
ما لا يكون فلا يكون بحيلة#أبدا وما هو كائن سيكون
سيكون ما هو كائن في وقته#وأخو الجهالة متعب محزون
يسعى الحريص فلا ينال بحرصه#حظا ويحظى عاجز ومهين
فارفض لها وتعر من أثوابها#إن كان عندك للقضاء يقين
هون عليك وكن بربك واثقا#فأخو الحقيقة شأنه التهوين
طرح الأذى عن نفسه في رزقه#لما تيقن أنه مضمون
Manakala aku melihatmu duduk menghadapku
Aku yakin kau sedang ditemani kegelisahan

Apa yang ditetapkan tak ada, tak bisa direkayasa ada
Apa yang ditetapkan ada, akan ada

Apa yang akan ada niscaya ada pada saatnya
Teman kebodohan itu selalu melelahkan dan menderitakan

Ada orang yang semangat mencari rizki, tetapi ia tak memeroleh apapun
Ada orang yang tak berdaya dan tersisihkan, tetapi ia memeroleh keberuntungan

Tinggalkan gelisah hatimu, lepaskan bajunya
Jika kau yakin pada ketetapan Tuhan

Tenang-tenang sajalah, percayakanlah kepada Tuhanmu
Orang yang tahu hakikat akan senantiasa tenang

Ia membuang segala duka dalam urusan rizki
Ketika ia yakin bahwa Tuhan menjaminnya

Usai membaca puisi-puisi itu, air matanya berderai-derai membasahi pipinya dan penuh haru. Ia pun segera kembali ke rumahnya untuk berikhtiar dan berdoa dengan hati yang optimis. Dia yakin bahwa Allah pasti akan memberinya jalan keluar dari kesulitannya.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait