Pojok PanturaPojok Pantura

Kisah Imam Syafi’i Menyelesaikan 72 Masalah Fiqih Saat Bermalam di Kediaman Imam Ahmad

Kisah Imam Syafi’i Menyelesaikan 72 Masalah Fiqih Saat Bermalam di Kediaman Imam Ahmad

PojokPantura.Com - Kita tahu bersama bahwa pendiri madzhab syafi’i yang diikuti oleh mayoritas umat Islam Indonesia ialah Imam Syafi’i. Jadi dapat tergambarkan betapa begitu ‘alimnya Imam Syafi’i dalam khazanah hukum Islam semasa hidupnya. Karena menjadi seorang mujtahid atau pendiri madzhab saja memerlukan kepandaian dalam banyak keilmuan seperti paham dan hafal al-Qur’an dan hadist.

Salah satu kisah betapa ‘alimnya Imam Syafi’i tertulis dalam kitab Anisul Mu'minin. Dalam kitab itu diceritakan bahwa Imam Syafi’i menyelesaikan 72 masalah fiqih saat bermalam di kediaman Imam Ahmad pendiri madzhab fiqih Hanbali. Kisah bermula saat Imam syafi'i berkunjung di kediaman Iman Ahmad bin Hanbal. Walaupun sama-sama pendiri madzhab tapi sebagai seorang murid, Imam Ahmad merasa begitu gembira mengetahui gurunya saat mengaji di Baghdad itu berkunjung dan berniat akan bermalam di kediamannya.

Seperti tamu pada biasanya, waktu itu Imam Syafi’i disediakan makanan oleh tuan rumah sekaligus muridnya yang kemudian langsung dinikmati oleh Imam Syafi’i dengan lahapnya, sampai-sampai makanan yang dihabiskan banyak sekali. Melihat itu, Imam Ahmad yang menemani Imam Syafi’i makan itu senang bukan main, karena telah menghidangkan sesuatu yang dinikmati oleh guru mulianya.

Setelah makan malam selesai, Imam syafi'i lantas dipersilahkan oleh Imam Ahmad untuk beristirahat di kamar sudah dipersiapkan. Pagi harinya, putri Imam Ahmad yang tahu ada tamu dirumahnya itu bertanya kepada ayahandanya,

"Ayah, apakah tamu kita itu adalah Imam Syafi'i yang sering engkau ceritakan?"
"Iya benar putriku."

Mengetahui tamu ayahandanya adalah seorang guru yang dimuliakan, lalu putri Imam Ahmad dengan berani dan jujur mengemukakan beberapa pendapat dari hasil pengamatannya semalam mengenai perilaku Imam Syafi’I yang tidak menggambarkan seorang imam madzhab yang ‘alim, taat ibadah dan zuhud.

Putri Imam Ahmad berkata: "Aku memperhatikan tamu ayah itu semenjak tadi malam. Ada tiga hal yang aku perhatikan. Pertama, saat kita menghidangkan makanan, beliau makan banyak sekali. Kedua, saat masuk kamar tamu beliau terlihat cuma menghabiskan malam dengan tidur, tidak melakukan shalat malam sama sekali. Dan ketiga, waktu shalat subuh tadi, beliau shalat berjamaah bersama kita tanpa berwudlu."

Waktu putrinya mengemukakan pendapat mengenai gurunya itu, nampak Imam ahmad hanya berdiam tanpa berkomentar apapun. Namun hal-hal yang mengherankan dan membingungkan itu masih dipikirkan Imam Ahmad. Sampai setelah Imam Syafi’i keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu, Imam Ahmad memberanikan diri bertanya perihal pengamatan putrinya.

Melihat keresahan dalam pikiran muridnya yang diwujudkan dengan beberapa pertanyaan yang diajukan kepadanya, maka Imam Syafi’i menjawab dengan tenang dan sabar,

"Aku semalam makan banyak sekali karena aku tahu betul makanan yang kalian hidangkan adalah dari harta yang halal dan engkau merupakan orang yang dermawan. Aku makan banyak bukan untuk mencari kenyang, tapi karena ingin mengobati penyakitku dengan makanan dari anda”
طعام الكريم دوأ وطعام البخيل دأ
Artinya: "Makan makanan orang dermawan adalah obat, sedangkan makanan dari orang bakhil adalah penyakit".

Lalu Imam Syafi’i menjawab pertanyaan mengenai waktu malamnya hanya dihabiskan dengan tidur saja yang membuat Imam Ahmad merasa takjub pada gurunya sekaligus malu mempertanyakan hal tersebut.

Imam Syafi’i berkata: “Aku tidak mendirikan shalat malam, karena saat aku merebahkan badanku untuk tidur, aku melihat seolah di hadapanku terbuka lembaran Al qur'an dan hadist. Kemudian waktu itu juga, Allah memberikan petunjuk kepadaku menyelesaikan 72 masalah fiqih dalam satu malam yang aku harapkan bisa bermanfaat untuk umat Islam. Sehingga malam itu aku tidak punya kesempatan untuk shalat malam.

Lalu Imam Syafi’i langsung menjawab kegundahan putri muridnya itu dengan berkata: “sedangakan aku shalat subuh bersama kalian tanpa berwudlu, karena aku belum tidur, sepanjang malam aku terjaga karena memikirkan masalah-masalah fiqih itu. Sehingga aku shalat subuh bersama kalian dengan wudlunya sholat isya' ".

Mengetahui penuturan-penuturan Imam Syafi’i itu, Imam Ahmad yang menyimak sedari awal bersama putrinya hanya termanung menyadari kekhilafannya atas prasangka buruk kepada guru yang dicintainya.

Baca Juga: Beberapa Pesan Moral dan Untaian Doa Dalam Qasidah Burdah

Dari gambaran kisah di atas, kita bisa ambil pelajaran mengenai adab atau tata cara bertamu dan menghormati tamu oleh kedua pendiri madzhab fiqih. Selain itu, kita juga dapat mengetahui bahwa Imam Syafi’i dalam menentukan dan menyelesaikan hukum Islam itu atas petunjuk langsung dari Allah dan Rasulullah SAW. Sehingga kita tak usah ragu dalam bermadzhab.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait