Pojok Pantura

Kisah Sahabat Rasulullah: Membuat Anak Gembira Bentuk Kafarat Dosa Orang Tua

PojokPantura.Com - Sungguh berbahagialah orang yang sudah memiliki anak. Di samping anak adalah wujud amanah yang dititipkan Allah yang wajib kita jaga baik-baik, ia juga bisa sebagai kafarat (tebusan) dosa orang tuanya kelak di akhirat. Namun syarat anak bisa menjadi kafarat bagi orang tuanya yakni dengan membahagiakannya.

Besarnya fadilah dan manfaat seorang anak bagi orang tuanya sebagaimana ditulis oleh Imam Nawawi Al-Bantani dalam Kitabnya Qami‘ut Thughyan ala Manzhumah Syu’abil Iman berdasarkan hadist yang diceritakan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib RA. Berikut hadist lengkapnya.

Sahabat Ali bin Abi Thalib RA mengkisahkan suatu waktu seorang laki-laki sowan kepada Nabi Muhammad SAW. Laki-laki itu duduk bersimpuh di hadapan Rasulullah SAW yang lagi duduk bersama sahabat lainnya. Nampaknya dia sowan dengan tujuan mengadukan persoalannya. Benar saja, laki-laki itu memulai aduannya,

“Ya Rasulullah. Aku sudah melakukan dosa. Aku minta kau tebus dosaku,” kata laki-laki itu memohon dengan kerendahan hati.

“Memang apa dosamu?” tanya Rasulullah SAW.

“Aku malu mengungkapkannya.”

“Apakah kau malu mengungkapkannya kepadaku. Namun mengapa kau tidak malu kepada Allah. Padahal Dia menyaksikanmu. Bangun! Pergilah supaya api (azab) tidak menimpa kami,” kata Rasulullah meninggi.

Setelah percakapan tersebut, Laki-laki itu kemudian langsung bangkit dan meninggalkan Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Terlihat air matanya jatuh menetes merasa sedih. Ia beranjak dengan perasaan sia-sia dan putus asa. Tak lama, dia hilang dari pandangan para sahabat.

Jibril AS yang tahu kejadian itu kemudian mendatangi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Maksud kedatangan malaikat Jibril AS ternyata untuk menegur sikap Rasulullah SAW kepada mereka yang datang memasrahkan diri untuk penebusan dosa.

“Wahai Muhammad Rasulullah, mengapa engkau membuat laki-laki yang berdosa tadi merasa bersedih dan putus asa? Padahal sesungguhnya ia mempunyai tebusan (kafarat) meski dosanya begitu banyak,” ungkap Jibril AS.

“Apa kafarat yang ia punyai?” tanya Rasulullah SAW.

“Laki-laki itu mempunyai anak kecil di rumah. Kalau ia pulang, anak kecil itu selalu menyambut ayahnya dengan gembira. Laki-laki itu memberikan makanan atau mainan yang membuatnya gembira. Jika anaknya gembira, maka itulah kafarat baginya,” jelas Jibril AS.

Dari hadist di atas, kita sebagai orang tua dapat mengambil hikmah yang dalam manfaatnya. Bagaimanapun, anak adalah amanah dari Allah. Pada hakekatnya jika kita membuat anak merasa gembira, maka Allah pun merasa senang kepada kita. Karena itu menandakan amanahNya dijaga baik-baik oleh kita.

Kita pun ketika berada di depan anak, haruslah menahan perasaan buruk dan emosional yang mungkin sedang berkecambuk di dada akibat berbagai permasalahan. Hal ini harus benar-benar diperhatikan. Karena banyak kasus amarah orang tua ditumpahkan kepada anaknya yang takt ahu apa-apa sampai berujung penganiayaan terhadapnya.

Baca Juga: Hukum dan Tata Cara Sholat Sambil Menggendong Anak

Apapun yang kita usahakan untuk membuat anak kita bahagia, ada banyak ganjaran kebaikan di balik itu. Tangisan anak sebenarnya ujian buat kita agar lebih bersabar dan telaten menghadapinya. Maka tak ada ruginya kita mengeluarkan harta benda untuk membuat anak gembira. Karena yang kita lakukan itu bisa menjadi kafarat (tebusan) dosa.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait