Pojok Pantura

Muhassabah Diri : Cerita Bergantinya Posisi Orang Kaya dan Pengemis Dalam Kitab Syarah Ratib al-Hadad

PojokPantura.Com - Muhassabah atau introspeksi diri itu sangat penting dan harus kita lakukan sewaktu-waktu atau sesering mungkin. Karena hal tersebut dapat menghindarkan kita dari perbuatan buruk, seperti berlaku dzalim, rakus, sombong dan lain sebagainya. Jadi muhassabah diri sifatnya untuk mengingatkan bahwa kewajiban kita di dunia hanyalah beribadah kepada Allah dan beramal saleh.

Ada berbagai cara untuk kita ber-muhassabah. Salah satunya yakni dengan mempelajari kisah-kisah yang terjadi dahulu. Kisah-kisah sejarah itu, nantinya membuat kita tahu akibat dari perbuata baik dan perbuatan buruk. Tujuannya jelas, yakni supaya kita bisa merespon atau berbuat sesuatu dengan cara arif dan bijaksana.

Banyak sekali cerita-cerita penuh hikmah yang ada dalam al-Qur’an, hadist dan kitab-kitab karangan ulama’ yang bisa dijadikan untuk muhassabah diri. Salah satu kitab yang berisi beberapa kisah penuh pelajaran yakni kitab Syarah Ratib al-Hadad karya dari seorang ulama bernama Al-Habib ‘Alawi bin Ahmad bin al-Hasan bin Abdillah bin ‘Alawi al-Hadad Ba’alawi.

Dalam kitab itu, ada satu kisah mengenai seorang kaya dan pengemis yang diganti posisinya oleh Allah. Hal tersebut karena watak mereka masing-masing. Dengan membaca dan mempelajari kisah ini, kita bisa membenarkan kata pepatah yang mengatakan ‘kehidupan itu seperti roda yang berputar’. Di bawah ini, berikut kisahnya :

Pada suatu siang, ada seorang yang kaya raya makan di rumahnya Bersama dengan isteri. Saat sedang makan itu, pintu rumah orang kaya itu tiba-tiba ada yang mengetuk. Ternyata yang mengetuk adalah seorang pengemis yang ingin meminta sesuatu dari keluarga tersebut.

Si istri yang membukakan pintu, merasa iba melihat kondisi pengemis itu. Dengan perasaan kasihan itu, si istri lantas ingin memberikan sedekah untuk membantunya. Namun sebagai istrinya baik dan taat kepada suaminya, ia lantas meminta izin dulu kepada suaminya, dengan mengatakan, "Suamiku, bolehkah aku memberi makanan kepada pengemis itu?"

Ternyata orang kaya itu mempunyai watak yang berkebalikan dengan istrinya. Si suami yang notabene orang yang kaya itu menjawab permintaan istrinya dengan nada lantang dan kasar. Suaminya menjawab: "Tidak usah.! usir saja dia dan tutup kembali pintunya!"

Dengan rasa kecewa pada suaminya, si istri tetap patuh padanya dengan terpaksa tidak memberikan apapun pada pengemis itu dan menutup pintu rumahnya kembali.

Beberapa tahun kemudian, bisnis orang kaya pelit tadi bangkrut dan kekayaan yang dimilikinya habis dan ia menanggung banyak hutang. Si istri yang memang menyadari perbedaan watak dan ketidakcocokan sifat dengan suaminya itu, memilih untuk berpisah atau bercerai. Akhirnya terjadilah perceraian di antara keduanya.

Tak lama berselang setelah perceraiannya, perempuan mantan istri orang kaya yang bangkrut itu menikah lagi dengan seorang pedagang kaya raya dikota dan keduanya hidup berbahagia.

Pada suatu saat, situasi yang dulu kembali terulang. Yakni perempuan tersebut sedang makan dengan suaminya yang baru di rumahnya. Kemudian terdengar pintu rumahnya ada yang mengetuk seseorang. Ternyata sesudah dibuka yang muncul adalah seorang pengemis yang kondisinya menyedihkan.

Melihat keadaan pengemis tadi, si istri yang memang mempunyai watak baik itu berkata kepada suaminya. Seperti yang dulu pernah ia katakan kepada mantan suaminya: "Wahai suamiku, bolehkah aku memberikan sesuatu kepada pengemis ini?".

Tanpa pikir panjang, suaminya menjawab, "Berikanlah makan pengemis itu dengan daging ayam seperti yang kita makan!!".

Sesudah memberi makan kepada pengemis tadi, isterinya langsung masuk ke dalam rumah sambil menangis. Suaminya dengan keheranan, bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menangis. Apakah karena aku menyuruhmu memberikan daging ayam kepada pengemis itu sehingga kamu tak suka?"

Istrinya itu merespon dengan menggelengkan kepalanya dengan pelan, lantas ia berkata dengan nada sedih: "Wahai suamiku, aku sedih dengan perjalanan takdir yang sungguh menakjubkan hatiku. Tahukah engkau, Siapa pengemis yang ada diluar itu?. Dia adalah suamiku yang pertama dulu."

Mendengar penjelasan isterinya begitu, sang suami agak terkejut, namun segera ia balik bertanya: "Dan, tahukah engkau siapa aku yang kini menjadi suamimu ini? Aku adalah pengemis yang dulu diusir olehnya!.

Pelajaran Yang Bisa Diambil

Baca Juga: Lakukan 4 Hal ini, Jika Tak Mau Merugi Dalam Hidupnya

Hindari berbuat jahat kepada orang lain. Karena itu bisa berdampak buruk buat kita di masa yang akan datang. Begitu juga sebaliknya, berbuat baiklah kepada sesama, maka Allah akan memberikan balasan kebaikan pula. Hal ini Sebagaimana dalam potongan firman Allah surat al-Isra’ ayat 7 yang berbunyi:

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَ نْفُسِكُمْ ۗ وَاِ نْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا ۗ
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait