Pojok PanturaPojok Pantura

Kala Nabi SAW Melarang Sahabatnya Menuduh Muslim Sebagai Munafik

Kala Nabi SAW Melarang Sahabatnya Menuduh Muslim Sebagai Munafik

PojokPantura.Com - Secara sederhana munafik adalah sifat orang yang pandai bersilat lidah. Ia bisa bermuka dua dan membolak-balikan ucapannya. Walaupun untuk berbohong dan berkhianat sekalipun. Yang ia lakukan sudah menjadi kebiasaan yang seringkali tergantung kepentingan dan kebutuhannya.

Nabi SAW pernah mendefinisikan orang munafik dalam sebuah hadist yang mungkin sering kita dengar. Nabi SAW bersabda: “Tanda orang Munafik itu ada 3, yakni apabila berjanji maka ia tidak menepati, apabila berkata maka ia berbohong dan apabila mendapat kepercayaan maka ia mengkhianati.” (HR Bukhari)

Orang-orang munafik dalam sejarah Islam sering berbuat onar dengan memperuncing masalah dan mengadu domba. Maka tak heran jika nabi SAW mewanti-wanti umat Islam dan memperhatikan orang-orang yang diduga munafik. Yang demikian agar persatuan di antara umat Islam selalu terjaga. Di sisi lain, jika ada konflik yang terjadi, maka dapat segera mengetahui sumbu dari konflik tersebut.

Melihat definisi munafik dalam hadist di atas dan bahayanya orang munafik, tak lantas membuat kita mudah menuduh orang lain atau lebih-lebih kepada seorang muslim sebagai munafik. Terlepas dari benar tidaknya tuduhan tersebut, jelas itu akan membuat orang yang dituduh menjadi sakit hati. Otomatis tuduhan itu pula setelahnya mesti menimbulkan konflik baru lagi.

Hadits Larangan Menuduh Muslim Sebagai Munafik

Walaupun nabi SAW sangat melarang dan membenci umatnya yang menjadi munafik, namun beliau juga melarang umatnya menuduh muslim sebagai munafik sembarangan. Hal ini tergambar dalam sebuah hadist,

ﻓﻘﺎﻝ ﻗﺎﺋﻞ ﻣﻨﻬﻢ: ﺃﻳﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺑﻦ اﻟﺪﺧﻴﺸﻦ ؟ ﻓﻘﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ: ﺫﻟﻚ ﻣﻨﺎﻓﻖ ﻻ ﻳﺤﺐ اﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " ﻻ ﺗﻘﻞ ﺫﻟﻚ، ﺃﻻ ﺗﺮاﻩ ﻗﺪ ﻗﺎﻝ: ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ، ﻳﺮﻳﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺟﻪ اﻟﻠﻪ " ﻗﺎﻝ: اﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﺃﻋﻠﻢ
“Di antara mereka ada yang bertanya: "Dimana Malik bin Dukhaisyin?" Yang lain menjawab: "Dia Munafik. Dia tidak cinta Allah dan Rasul-Nya". Nabi bersabda: "Jangan berkata begitu. Tidakkah kau lihat dia telah mengucapkan Tiada Tuhan selain Allah dengan mengharap ridho Allah?

Agaknya sahabat ini masih membantah dan 'berani' mengajukan pembelaan diri di depan Nabi:

ﻗﺎﻝ: ﻓﺈﻧﺎ ﻧﺮﻯ ﻭﺟﻬﻪ ﻭﻧﺼﻴﺤﺘﻪ ﺇﻟﻰ اﻟﻤﻨﺎﻓﻘﻴﻦ، ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " ﻓﺈﻥ اﻟﻠﻪ ﻗﺪ ﺣﺮﻡ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺎﺭ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ: ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ، ﻳﺒﺘﻐﻲ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺟﻪ اﻟﻠﻪ "
Ia berkata: "Kami melihat wajahnya dan ketulusannya kepada orang-orang Munafikin". Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh Allah mengharamkan kepada neraka bagi siapapun yang mengucapkan Tiada Tuhan selain Allah, seraya mengharap ridho Allah" (HR Bukhari)
Baca Juga: Berikut ini Amalan-amalan Kecil yang Menyelamatkan, Merusak, Mengangkat Derajat dan Menebus Dosa Kita

Jadi dapat disimpulkan bahwa jangan sekali-kali menuduh muslim sebagai munafik. Karena walau bagaimanapun, ia masih memiliki kalimat tauhid di dalam hatinya yang ia ucapkan sebelumnya. Salah satu kunci persatuan adalah khusnudzon atau berprasangka baik. Tanpa khusnudzon, umat Islam akan mudah terpecah belah dan rentan timbul konflik yang mungkin bisa berkepanjangan.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait