Pojok PanturaPojok Pantura

Begini Memahami Konsep Tawakkal dan Takdir yang Benar

 Begini Memahami Konsep Tawakkal dan Takdir yang Benar | jelas bahwa rejeki, umur, kesehatan, musibah dan segala hal tentang alur kehidupan semua makhluk itu atas kehendak Allah Swt | Pojok Pantura

Sebagai orang Islam yang beriman kepada Allah dan ketetapanNya, barang tentu kita memiliki keyakinan yang kuat bahwa segala apa yang terjadi itu sudah ditakdirkan Allah. Tarikan nafas kita, jatuhnya daun di ranting pohon dan hal-hal yang menurut kita remeh pun sesungguhnya sudah ditetapkan oleh Allah. Apalagi hal-hal yang besar dalam kehidupan ini, pastilah sudah di atur oleh Allah yang maha kuasa.

Sampai disini berarti sudah jelas bahwa rejeki, umur, kesehatan, musibah dan segala hal tentang alur kehidupan semua makhluk itu atas kehendak Allah Swt. Tak ada yang meleset dari hal tersebut. Makanya, pelajaran tentang keimanan dalam ilmu aqidah dan tauhid harus dipelajari sedini mungkin. Hal ini sangat diperlukan agar cara memahami konsep tawakkal dan takdir dalam gerak hidup kita tak salah.

Faktanya memang banyak orang Islam yang tak paham konsep tawakkal dan takdir yang benar. Alhasil orang-orang tersebut bertindak hal-hal yang dilarang oleh agama dan malah cenderung menyalahkan Allah. Salah satu cara agar kita paham terkait konsep takdir ialah dengan berikhtiar terlebih dahulu atas apa yang kita kehendaki.

Mencari rejeki untuk memenuhi kebutuhan hidup, menjaga kesehatan, menghindarkan diri dari hal yang membahayakan dan rangkaian ikhtiar lainnya. Niat dan ikhtiar yang baik ini juga sebenarnya perintah Allah. Kemudian setelah kita berikhtiar semampunya, maka sandarkan hasil akhir dari proses kita sebelumnya kepada Allah. Itulah yang dinamakan tawakkal.

Artinya, meyakini sepenuhnya dalam segala hal, baik itu urusan duniawi maupun ukhrawi itu hasilnya tergantung kehendak atau takdir Allah. Namun demikian, tetap kita harus berprasangka baik kepadaNya, salah satunya dengan berupa berdoa memohon kepada Allah agar yang diikhtiari diijabahNya. Hal ini didasari dari salah satu hadist qudsyi, Allah berfirman:

قال النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – : يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah berkata: “Aku sesuai prasangka hambaku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku” (HR. Muslim)

Perlu diingat pula bahwa setiap ikhtiar dan doa yang kemudian kita pasrahkan kepada Allah (tawakkal) belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Semisal, seorang petani dari awal sudah mencangkul, menanam benih, menyirami, memupuk dan memelihara tanamannya dengan baik, belum tentu hasilnya bagus dan banyak. Atau orang sakit sudah berikhtiar kemana-mana untuk berobat dan bertawakkal kepada Allah, hasilnya belum tentu sesuai harapan orang tersebut yakni sembuh. Mungkin bisa jadi tambah parah dan meninggal. Berarti itu menandakan hasil atau takdir itu benar-benar Allah yang menentukan. Tak ada yang bisa mengintervensinya.

Jadi tawakal itu berpaling dari satu takdir ke takdir yang lain. Semisal seorang yang menganggur, lalu ia memutuskan untuk mencari pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Kemudian ia berhasil mendapatkan pekerjaan dan artinya ia tak mengaggur lagi. Begitupun dengan berdoa dari mara bahaya dan meminta kebaikan.

Baca Juga: Hindarilah Rasisme Sebab itu Sifatnya Iblis

Sebab Allah menciptakan banyak takdir untuk hamba-Nya. Dan masing-masing takdir dibarengi dengan sebab-sebab yang dapat dilakukan seorang hamba sebagai jalan dan cara untuk mencapainya. Sehingga segala usaha yang dilakukan manusia dalam mencapai takdirnya adalah ketaatan kepada Allah dari sisi lahiriah. Sedangkan tawakkal, dengan mempercayakan sepenuhnya atas segala urusan kepada Allah merupakan amaliyah hati. Dalam Surat At-Talaq Ayat 3 Allah berfirman :

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا “Dan Allah mengkaruniakan rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan sesiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melakukan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah sudah memutuskan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Apabila seseorang sudah memiliki sifat tawakkal yang kuat, ia akan merasa tenang atas semua hal yang dihadapi, tidak ada rasa gelisah dan khawatir. Sebab ia sudah yakin dan memasrahkan semuanya kepada Allah. Kalau sudah demikian, seorang hamba tidaklah mungkin akan melakukan hal-hal yang dilarang Allah dan Rasul-Nya demi menggapai kemauan dan ambisinya, atau karena putus asa dari kenyataan hidup dan musibah yang dia hadapi.