Pojok Pantura

Tegal,

6 Orang Isoman Mati Sejak Awal Juli, Bupati Tegal Minta Satgas Jogo Tonggo Dibekali Alat Pengukur Saturasi Oksigen

PojokPantura.Com - Kasus penularan Covid-19 kembali membludak di beberapa daerah, termasuk di kabupaten Tegal. Hal ini diduga karena adanya varian baru virus corona yang lebih ganas. Dugaan ini menguat karena makin banyaknya orang yang sedang isolasi mandiri (isoman) meninggal dunia. Jubir Satgas Covid-19 Kab. Tegal Sarmanah Adi Muraeny mencatat ada 6 orang mati karena Covid-19 yang sebelumnya sedang menjalani isoman.

“Enam orang yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri terdiri dari warga Kecamatan Slawi, Dukuhwaru, dan Talang,” ujar Sarmanah Adi.

Sarmanah kemudian menjelaskan, kebanyakan isoman yang meninggal itu sebelumnya hanya menderita gejala tertular covid-19 ringan. Namun kemudian secara tiba-tiba kondisi mereka menjadi drop karena mengalami gejala covid-19 berat. Terlebih sebabnya kata Sarmanah, mereka mempunyai riwayat penyakit bawaan sebelumnya.

“Sekarang ini banyak yang awalnya bergejala ringan, tiba-tiba menjadi berat. Terlebih pada mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid,” jelasnya.

Maksimalkan Peran Satgas Jogo Tonggo

Di tempat lain, mengetahui kasus kematian karena covid-19 di daerahnya mulai bertambah banyak, Umi Azizah selaku Bupati Tegal mulai berupaya memaksimalkan peran Satgas Jogo Tonggo yakni membekalinya dengan alat pengukur saturasi oksigen. Nantinya warga yang sedang isoman akan selalu rutin dicek saturasi oksigennya. Dan setelahnya akan dilakukan tindaklanjut jika angka saturasinya di bawah 95, yaitu dengan dirujuk ke rumah sakit terdekat.

“Jika angkanya masih diatas 95, maka isoman pada pasien COVID-19 bisa terus dilanjutkan di rumah. Tapi jika di bawah 95, maka harus segera dirujuk ke rumah sakit atau layanan fasilitas kesehatan terdekat,” ucapnya.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal Hendadi Setiadji. Ia mengatakan bahwa Satgas Jogo Tonggo peran komunikasi yang vital. Yakni menjembatani antara pasien covid-19 yang sedang isoman/keluarganya dengan pihak petugas kesehatan, baik di puskesmas maupun rumah sakit terdekat. Ini diperlukan karena banyak warga yang memilih enggan pergi ke layanan kesehatan ketika mereka sedang mengalami gejala covid-19 ringan.

Baca Juga: Guci Tutup 2 Pekan, Para Pengusaha Penginapan Rugi Ratusan Juta Rupiah

“Ketika sedang menjalani isolasi mandiri tentunya harus ada komunikasi yang baik dan dukungan dari satgas desa setempat. Satgas desa pun juga harus aktif menanyakan perkembangan warganya yang sedang isolasi mandiri,” jelasnya.

Berbagi Itu Peduli

Tulisan Terkait